Oleh: Redaksi MTs Negeri Fakfak
Fakfak – Pernahkah kita melihat teman yang merasa tidak senang saat orang lain meraih prestasi? Atau mungkin mendengar kalimat seperti, “Ah, dia pintar cuma karena dekat dengan guru,” atau “Dia jangan dibiarkan terus naik, nanti sombong.” Jika iya, maka kita sedang berhadapan dengan fenomena crab mentality.
Istilah ini mungkin terdengar asing, tapi perilakunya cukup sering kita temui, bahkan di lingkungan madrasah sekalipun. Dalam dunia pendidikan yang seharusnya saling mendukung dan menumbuhkan semangat belajar, crab mentality justru menjadi penghambat kemajuan bersama.
Crab mentality atau mentalitas kepiting adalah pola pikir negatif di mana seseorang tidak ingin orang lain sukses, dan bahkan berusaha menjatuhkan mereka yang sedang naik. Istilah ini berasal dari perilaku kepiting di dalam ember: saat ada satu kepiting yang hampir keluar, kepiting lain justru menariknya kembali ke bawah, sehingga tidak ada yang berhasil keluar.
Dalam konteks madrasah, crab mentality muncul dalam bentuk:
Mengejek teman yang aktif atau berprestasi.
Menyebarkan rumor negatif tentang siswa lain.
Menolak kerja sama dalam kelompok karena iri.
Membanding-bandingkan secara negatif.
Menghambat Prestasi
Siswa yang terus-menerus dikritik atau direndahkan karena semangat belajarnya bisa kehilangan motivasi dan kepercayaan diri.
Merusak Ukhuwah Islamiyah
Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai dan mendukung sesama Muslim. Crab mentality bertentangan langsung dengan semangat ukhuwah.
Membentuk Lingkungan Negatif
Ketika budaya saling menjatuhkan dibiarkan, maka madrasah akan dipenuhi dengan persaingan tidak sehat, bukan kerja sama dan saling menguatkan.
Dalam Islam, rasa iri dan dengki terhadap keberhasilan orang lain sangat tidak dianjurkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian saling membenci, saling dengki, dan saling membelakangi satu sama lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Islam justru mengajarkan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) dan senantiasa mendoakan kebaikan bagi saudara kita. Ketika ada teman yang berprestasi, kita seharusnya bangga, memberi selamat, dan menjadikannya inspirasi untuk terus maju, bukan malah menjatuhkan.
Biasakan memberi tepuk tangan atau ucapan selamat ketika teman mendapat penghargaan. Bahkan hal kecil seperti memberi komentar positif saat presentasi bisa membangun semangat baru.
Pendidikan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam perlu dikuatkan di setiap kegiatan madrasah. Bukan hanya tahu apa itu “iri”, tapi juga bagaimana menghindarinya.
Guru sebaiknya tidak hanya fokus pada siswa berprestasi, tapi juga memberi ruang tumbuh bagi semua siswa. Dengan begitu, siswa tidak merasa harus menjatuhkan yang lain agar terlihat menonjol.
Adakan lebih banyak tugas kelompok, proyek sosial, dan lomba tim agar siswa belajar pentingnya kerja sama, bukan saling bersaing secara negatif.
Ajarkan siswa untuk selalu bersyukur atas kelebihan diri sendiri dan tidak membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain. Doakan teman yang sukses agar kita juga diberikan rezeki serupa.
Crab mentality bisa menjadi penghambat kemajuan di lingkungan madrasah jika dibiarkan. Namun dengan pendekatan yang tepat dan dukungan dari seluruh warga madrasah, budaya ini bisa dikikis dan digantikan dengan semangat saling dorong, bukan saling tarik ke bawah.
Karena sukses itu bukan soal siapa yang lebih dulu, tapi soal siapa yang bisa membawa lebih banyak orang naik bersama.
Madrasah bukan tempat perlombaan menjatuhkan. Madrasah adalah tempat kita semua bertumbuh—bersama.
Great, madrasah sebagai lembaga mendidik pribadi untuk membangun akademisi sehingga terwujud generasi yg utuh, baik pribadi islami, nilai kemanusiaan, dan calon penerus bangsa baik langsung terintegrasi dg pembelajaran maupun tidak langsung, semoga terus istiqamah dan senantiasa berbenah.
Tinggalkan Komentar