Di Tengah Kemarau dan Karhutla, Keluarga Besar MTsN Fakfak Bermunajat Melalui Salat Istisqa
MTsN Fakfak – Menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan serta bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah, MTsN Fakfak menggelar Salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar spiritual dan munajat bersama untuk memohon pertolongan Allah SWT agar segera menurunkan hujan dan memberikan keselamatan bagi seluruh masyarakat.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat 2 Oktober 2026 pukul 07.15–08.00 WIT, bertempat di lapangan MTsN Fakfak ini diikuti oleh seluruh kepala madrasah, dewan guru, staf, serta seluruh peserta didik MTsN Fakfak. Salat Istisqa dipimpin oleh Ustaz Karim Abdul Rahman, S.Ag., M.Pd., yang bertindak sebagai imam sekaligus menyampaikan khatib dan pesan keagamaan kepada seluruh jamaah.
Pelaksanaan Salat Istisqa ini dilatarbelakangi oleh kondisi cuaca yang semakin memprihatinkan. Kabupaten Fakfak, bahkan berbagai wilayah di Indonesia, tengah dihadapkan pada kondisi kekeringan dan bencana karhutla yang berdampak terhadap lingkungan maupun kehidupan masyarakat. Di Kabupaten Fakfak sendiri, penanganan kebakaran hutan dan lahan masih terus berlangsung, sementara kondisi cuaca panas selama September hingga Oktober turut menjadi tantangan dalam upaya pengendalian kebakaran.
Dalam tausiah yang disampaikan setelah pelaksanaan salat, Ustaz Karim Abdul Rahman mengingatkan bahwa memohon pertolongan kepada Allah SWT merupakan bagian dari ikhtiar seorang hamba. Menurutnya, manusia harus senantiasa menyadari keterbatasan diri dan meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berada dalam kekuasaan dan ketetapan Allah SWT.

“Memohon dan meminta kepada Allah adalah bagian dari ikhtiar kita sebagai hamba. Jika Allah belum mengabulkan permohonan kita, tidak ada kerugian bagi kita. Oleh karena itu, hendaknya kita tetap berhusnuzan kepada Allah SWT, karena Dialah Zat yang mengatur seluruh alam semesta ini,” ungkapnya.
Salat Istisqa menjadi pengingat bahwa ketika ikhtiar manusia terasa terbatas, doa tidak boleh berhenti. Mari memperbanyak istigfar, memperbaiki diri, menjaga alam, dan senantiasa berhusnuzan kepada Allah SWT. Semoga hujan segera turun, api segera padam, dan bumi kembali menjadi tempat yang aman serta penuh keberkahan bagi seluruh makhluk-Nya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Lebih lanjut, Ustaz Karim mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan kondisi kekeringan dan bencana yang terjadi sebagai momentum untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak istigfar, bertobat, meningkatkan amal saleh, serta memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.
Ia mengingatkan bahwa pada hakikatnya tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Oleh sebab itu, musibah yang terjadi hendaknya menjadi ruang untuk introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Dalam pesannya, Ustaz Karim juga mengajak jamaah untuk merenungkan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Nuh ayat 10–11:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًا ۙ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا
Artinya: “Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.'” (QS. Nuh: 10–11).
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa istigfar dan pertobatan merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Melalui ayat ini, jamaah diajak untuk tidak hanya mengharapkan turunnya hujan, tetapi juga memperbaiki diri, memperbanyak amal kebaikan, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kepala MTsN Fakfak, Drs. La Boisi M., M.Pd., bersama sejumlah guru dan peserta didik mengungkapkan bahwa pelaksanaan Salat Istisqa ini menjadi pengalaman pertama bagi mereka. Hal tersebut menjadikan kegiatan ini terasa istimewa, tidak hanya sebagai pelaksanaan ibadah sunah, tetapi juga sebagai pengalaman keagamaan yang memberikan kesan dan pembelajaran mendalam bagi keluarga besar madrasah.
Pelaksanaan salat berlangsung dengan khidmat. Seluruh jamaah mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh kesungguhan dan harapan, memanjatkan doa agar Allah SWT memberikan rahmat-Nya, menurunkan hujan yang membawa keberkahan, serta menjauhkan masyarakat dari berbagai bencana dan dampak buruk kekeringan.

Bagi MTsN Fakfak, kegiatan ini bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan juga momentum pembelajaran bermakna yang menghadirkan nilai-nilai spiritual secara langsung dalam kehidupan nyata. Peserta didik tidak hanya mempelajari ajaran agama melalui materi di ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung tentang bagaimana seorang muslim menyikapi ujian, menghadapi musibah, membangun kesabaran, dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT.
Melalui kegiatan ini, madrasah juga ingin menanamkan kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam dan lingkungan. Ikhtiar melalui doa hendaknya berjalan beriringan dengan tindakan nyata, seperti menjaga kelestarian hutan, tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Di tengah kondisi alam yang belum sepenuhnya membaik, keluarga besar MTsN Fakfak berharap agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi seluruh wilayah Fakfak dan daerah-daerah lain yang terdampak kekeringan serta karhutla.