Talkshow Moderasi Beragama dalam Bingkai Satu Tungku Tiga Batu : Merawat Nilai Keindonesiaan di Fakfak

6 Oktober 2026 admin Berita

Fakfak, MTsN Fakfak — Semangat moderasi beragama dalam bingkai kearifan lokal Satu Tungku Tiga Batu menjadi tema utama dalam talkshow yang diselenggarakan di lapangan MTsN Fakfak. Kegiatan ini menjadi ruang bagi warga madrasah untuk memahami pentingnya toleransi, kesetaraan, kerja sama, serta menjaga persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Fakfak.

Talkshow menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Dr. Abraham Yumte, M.Th., M.M., Ketua Tim Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua Barat sekaligus Wakil Ketua III Badan Moderasi Kerukunan Antarumat Beragama Provinsi Papua Barat; Drs. Laboisi M., M.Pd., Kepala MTsN Fakfak; Dr. Karim Abdul Rahman, S.Ag., M.M., Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTsN Fakfak; serta Hariyono, S.Pd., Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas MTsN Fakfak.

Fakfak dan Kekuatan Filosofi Satu Tungku Tiga Batu

Kepala MTsN Fakfak, Drs. Laboisi M., M.Pd., menyampaikan bahwa keberagaman yang ada di Fakfak pada hakikatnya mengajarkan masyarakat untuk saling memahami. Dari sikap saling memahami itulah kemudian tercipta harmoni dalam kehidupan bersama.

Menurutnya, perbedaan merupakan kodrat yang diberikan Tuhan dan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja sama.

“Perbedaan merupakan kodrat dari Tuhan, tetapi perbedaan ini tidak menghalangi kita untuk bekerja sama,” menjadi semangat yang terus ditanamkan dalam kehidupan warga madrasah.

Hal tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan di MTsN Fakfak. Salah satunya melalui kegiatan ekstrakurikuler Pramuka yang diarahkan untuk membangun kolaborasi dengan sekolah lain, termasuk sekolah di bawah naungan YPPK. Rencana kegiatan perkemahan bersama menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana peserta didik belajar bertoleransi, menghargai perbedaan, dan bekerja sama dalam keberagaman.

Fakfak sebagai Laboratorium Kerukunan Antarumat Beragama

Sementara itu, Dr. Abraham Yumte, M.Th., M.M., menjelaskan bahwa salah satu program yang sedang didorong adalah sosialisasi moderasi beragama di seluruh wilayah Provinsi Papua Barat.

Ada dua bentuk kegiatan yang menjadi perhatian, yaitu sosialisasi di sekolah-sekolah serta visitasi sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan survei indeks kerukunan. Kabupaten Fakfak menjadi salah satu daerah yang akan disurvei dalam Indeks Kerukunan Umat Beragama Tahun 2026.

Menurut Abraham, filosofi Satu Tungku Tiga Batu memiliki korelasi yang kuat dengan upaya menjaga dan mengukur kerukunan masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan survei indeks kerukunan yang pernah dilakukan pada 2018 melalui Puslitbang, Kabupaten Fakfak menjadi salah satu daerah yang memberikan sumbangsih tinggi dalam aspek toleransi.

Dalam indeks kerukunan, terdapat tiga indikator utama yang menjadi perhatian, yaitu:

  1. Toleransi
  2. Kesetaraan
  3. Kerja sama

Kekuatan Fakfak dalam menjaga kerukunan bahkan kerap disebut sebagai ikon atau laboratorium kerukunan antarumat beragama.

Kekuatan tersebut, menurut Abraham, dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, filosofi Satu Tungku Tiga Batu yang mengajarkan masyarakat sebagai anak bangsa untuk saling menghormati. Kedua, aspek historis Fakfak sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah masuknya agama Islam dan Katolik di Papua, dengan nilai-nilai persaudaraan yang terus diwariskan oleh para leluhur. Ketiga, aspek yuridis, yaitu jaminan negara terhadap kebebasan setiap warga negara dalam menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya.

Menanamkan Moderasi Beragama Sejak Bangku Sekolah

Namun demikian, Abraham mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial juga menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda.

Berdasarkan berbagai hasil riset, masih ditemukan peserta didik yang mudah terpapar paham radikal melalui media sosial. Karena itu, sosialisasi moderasi beragama di lingkungan sekolah dipandang penting sebagai upaya pencegahan sejak dini.

Ada empat nilai utama yang perlu terus ditanamkan kepada peserta didik, yaitu anti-kekerasan, toleransi, penerimaan terhadap budaya lokal, dan komitmen kebangsaan.

Keempat nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda agar mampu menyaring informasi, tidak mudah terprovokasi, serta tetap memiliki sikap terbuka terhadap keberagaman.

Peran Guru dalam Membangun Ekosistem yang Toleran

Hal senada disampaikan oleh Dr. Karim Abdul Rahman, S.Ag., M.M., Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTsN Fakfak. Ia menegaskan bahwa guru merupakan salah satu ujung tombak dalam menanamkan nilai moderasi beragama kepada peserta didik.

Moderasi beragama tidak cukup hanya disampaikan dalam sebuah materi, tetapi perlu diinternalisasikan ke dalam kurikulum, materi pelajaran, serta suasana pembelajaran di kelas.

Guru memiliki peran dalam membangun ekosistem pembelajaran yang tidak diskriminatif, demokratis, dan inklusif. Peserta didik dibiasakan untuk saling menghargai, saling menolong, menerima keberagaman, serta memahami bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan.

Selain itu, peserta didik juga perlu diarahkan untuk mengenal dan mengembangkan budaya lokal Fakfak sebagai bagian dari identitas dan kekayaan bangsa Indonesia.

Toleransi yang Hidup dalam Kegiatan Peserta Didik

Sementara itu, Hariyono, S.Pd., Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas MTsN Fakfak, menyampaikan bahwa keberagaman di MTsN Fakfak terlihat nyata dari latar belakang suku peserta didiknya.

Keberagaman tersebut menjadi tanggung jawab bersama, khususnya para guru, untuk menanamkan semangat toleransi yang tinggi kepada peserta didik.

Salah satu praktik yang telah menjadi bagian dari kehidupan peserta didik adalah keterlibatan ekstrakurikuler PKS dan Pramuka dalam menjaga rumah ibadah ketika umat agama lain melaksanakan kegiatan keagamaan, terutama pada momen-momen tertentu seperti bulan Desember.

“Meski kita meyakini agama Islam adalah agama yang benar, kita tidak boleh meremehkan agama lain,” menjadi pesan penting bahwa keyakinan yang kuat harus berjalan bersama sikap menghormati orang lain.

Belajar Bijak Menghadapi Informasi di Media Sosial

Talkshow semakin menarik ketika memasuki sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan disampaikan oleh perwakilan peserta didik, Nurullah Azizah Tammah, Ketua OSIM MTsN Fakfak dari kelas 9B.

Ia menanyakan bagaimana seorang pelajar dapat memahami berbagai informasi yang begitu mudah ditemukan di media sosial agar tidak menimbulkan perpecahan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Abraham mengingatkan peserta didik untuk tidak terburu-buru menyebarkan berita negatif.

Ia memberikan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan pelajar, yaitu:

  1. Tidak cepat membagikan berita negatif.
  2. Menanyakan kebenaran informasi kepada orang yang kredibel, seperti guru atau pihak yang memahami persoalan tersebut.
  3. Berdoa agar terhindar dari paparan paham radikal dan selalu diberikan kemampuan untuk memilih informasi yang baik.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah derasnya arus informasi digital yang memungkinkan setiap orang menerima dan menyebarkan informasi hanya dalam hitungan detik.

“Fakfak, Wajah Moderasi Indonesia”

Talkshow kemudian ditutup dengan penampilan pembacaan puisi oleh perwakilan peserta didik, Lukluil Maknun, dengan judul “Fakfak, Wajah Moderasi Indonesia.”

Puisi tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat Fakfak yang penuh keberagaman menjadi sebuah pembelajaran nyata tentang persaudaraan, toleransi, dan kedamaian.

Di tanah Fakfak yang damai,
angin laut berbisik lembut,
menyapa gunung, pantai,
dan kampung-kampung tua
yang menyimpan cerita tentang persaudaraan.

Di sini kami belajar sejak kecil
bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh,
melainkan untuk saling mengenal,
sebagaimana pelangi yang indah
karena hadir dalam banyak warna.

Kami mendengar azan berkumandang
dan lonceng gereja berdentang.
Doa terangkat ke langit
dengan cara yang berbeda,
namun membawa makna yang sama.

Masyarakat Fakfak mengajarkan
makna hidup dalam kebersamaan.
Satu Tungku Tiga Batu
bukan sekadar semboyan yang diucapkan,
tetapi nilai yang tumbuh dalam tindakan.

Saat tetangga merayakan hari besar,
kami datang dengan senyuman.
Saat saudara membutuhkan bantuan,
kami hadir tanpa bertanya
tentang keyakinannya.

Moderasi beragama bukan sekadar deretan kata,
melainkan sikap yang menjaga hati
agar tetap menghormati,
tetap menghargai,
dan tetap mencintai sesama manusia.

Kami adalah generasi muda Fakfak,
penjaga warisan persaudaraan.
Kami ingin dunia tahu
bahwa damai dapat tumbuh di mana saja
jika ditanam dengan kasih dan pengertian.

Di tanah yang diberkahi keberagaman ini,
kami melangkah bersama,
bergandengan tangan dalam perbedaan,
menguatkan persatuan untuk Indonesia.

Karena kami percaya,
agama mengajarkan kebaikan,
dan kebaikan akan menemukan jalannya
menuju hati yang terbuka.

Fakfak mengajarkan kami
satu pelajaran yang berharga:
damai bukan sekadar mimpi.

Damai adalah kenyataan yang hidup
di tengah masyarakat
yang saling menghormati.

Dan dari tanah Papua Barat ini,
kami menyampaikan pesan kepada negeri:

Rawatlah persaudaraan.
Jagalah keberagaman.
Hormatilah perbedaan.

Karena Indonesia akan semakin kuat
ketika kita memilih untuk berjalan bersama
dalam keberagaman,
dalam persaudaraan,
dan dalam moderasi beragama.

Menjaga Warisan Persaudaraan untuk Indonesia

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa moderasi beragama bukan hanya sebuah konsep, tetapi nilai yang perlu dihidupkan dalam keseharian. Di lingkungan sekolah, nilai tersebut dapat tumbuh melalui pembelajaran, keteladanan guru, kegiatan ekstrakurikuler, kolaborasi antarsekolah, serta kebiasaan untuk saling menghormati.

Dari Fakfak, nilai Satu Tungku Tiga Batu terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya dan nilai Keindonesiaan.

Fakfak tidak hanya berbicara tentang keberagaman. Fakfak menunjukkan bagaimana keberagaman dapat dirawat menjadi persaudaraan.

Dari tanah Papua Barat, pesan itu terus digaungkan:

Rawat persaudaraan, jaga keberagaman, dan mari berjalan bersama dalam moderasi beragama untuk Indonesia yang semakin kuat.